Manusia penuh rekayasa dan sensasi demi prestise dan gengsi

Politik atas-nama memang selalu memestikan klaim dan imajinasi; mengklaim dan berimajinasi mewakili semua--misalnya rakyat, ummat, ulama, dst.--untuk semua.

Karena ia hanya klaim dan imajinasi, maka angka tak begitu penting dan aspek representasi mesti diabaikan. Yg segelintir dapat diklaim segelontor dan yg secuil dapat diimajinasikan secuat.

Mungkin dalam alur klaim dan imajinasi inilah tong yg bersuara lebih nyaring dapat menemukan momentumnya. Yang paling nyaring akan selalu tampak lebih mendominasi--betapapun terbukti kosongnya di kemudian hari.

Lalu, yang nyaring dan senyap itu ditengahi oleh kotak-kotak demokrasi. Melalui kotak-kotak itulah setiap orang dapat bersuara tanpa mesti mengeluarkan bunyi. Sehingga yang nyaring dan senyap tak relevan lagi.

Sejatinya, arus klaim dan imajinasi itu terhenti setelah suara dititipkan dalam kotak bersegel itu. Kalau tidak, ia dapat berujung pada ilusi dan halusinasi akut yg tak terobati.

Namun, ya, begitulah. Tokoh sesabar Vanessa Angel pun mengaku telah letih dalam menjalani proses pengadilan dan ujian yg berliku itu.

Kelak, bisa-bisa beliau telah lulus gemilang sementara kita masih sibuk berebut klaim memperjuangkan kepentingan ummat, agama, ulama, dst.

Ummat, agama, dan ulama yg mana? Tanya Vanessa Angel.

Saya pun tak tahu, Mbak. Saya hanya ikut-ikutan--dalam keadaan buta pula.

Komentar

Postingan Populer